Episode: Roti Jala Kari Ayam
- bybecreation
- Apr 4
- 3 min read
Malam itu jalanan masih ramai. Di antara deretan toko, ada satu depot kecil dengan lampu hangat dan tulisan kapur di kaca:
Menu hari ini: Roti Jala Kari Ayam
Seorang pria berhenti. Istrinya berdiri di samping sambil menggendong anak kecil yang terus melihat ke dalam. “Masuk yuk,” katanya. Mereka masuk.
Di dalam lebih tenang. Dari dapur terbuka, panci kari ayam mengepul. Bau rempahnya kuat. Kayu manis, kapulaga, santan. Hangat.
Pemilik depot menuang adonan ke wajan datar. Dari botol kecil, adonan jatuh membentuk garis tipis seperti jaring. Anak kecil itu langsung menunjuk. “Ayah, itu apa?”
“Itu roti jala,” jawabnya. “Kayak jaring.”

Pria itu duduk, matanya tidak lepas dari dapur. “Ini makanan dari kampung saya. Di Aceh.”
Istrinya mengangguk. “Yang kamu cerita, pas Lebaran itu ya?”
“Iya.” Dia berhenti sebentar. “Sekarang… sudah tidak ada siapa-siapa di sana.”
Istrinya diam, hanya mengusap punggung anak mereka. Pemilik depot tetap bekerja, menuang kari ke mangkuk. Kuahnya kental, minyak rempah mengapung tipis.
“Orang tua sudah tidak ada. Rumah juga sudah dijual,” lanjut pria itu pelan. “Saya sudah lama tidak makan ini.”
Beberapa menit kemudian, sepiring roti jala dan semangkuk kari ayam disajikan. Uap naik pelan. Anak kecil itu langsung mencoba. “Enak!” katanya.
Istrinya ikut mencicipi. “Ini yang kamu maksud ya. Enak.”
Pria itu baru makan. Dia mencelupkan roti jala ke kari, lalu menyuap. Dia berhenti sebentar.
Rasanya datang pelan. Familiar.
Anaknya tertawa kecil di sampingnya. Istrinya tersenyum. Untuk beberapa detik, tidak ada yang hilang.
“Saya tidak bisa masak ini,” katanya tiba-tiba.
“Belajar aja,” jawab istrinya.
Dia tertawa kecil. “Saya dari dulu cuma makan.”
Dia menoleh ke dapur. “Kalau saya mau belajar… bisa?”
Pemilik depot mengangguk. “Bisa.”
“Saya ingin anak saya kenal makanan ini.”
Pemilik depot menuang sedikit kari tambahan.
“Tradisi tetap ada… selama masih ada yang membuatnya.”
Pria itu melihat anaknya yang makan dengan lahap. Lalu tersenyum. “Berarti saya harus mulai ya.”
“Iya. Kita belajar sama-sama,” jawab istrinya.
Mereka makan sampai habis.
Sebelum pergi, pria itu berkata pelan, “Besok kita coba ya.”
Istrinya mengangguk.
Mereka keluar. Jalan masih ramai. Pria itu menoleh sebentar.
Depot kecil itu sudah tidak ada.
Dia diam sejenak, lalu menggenggam tangan anaknya.
“Namanya roti jala,” katanya.
Anaknya mengulang pelan,
“Roti… jala.”
Mereka berjalan pulang.

Roti Jala
Bahan:
250g Tepung terigu protein sedang
2 butir Telur ayam
450-500ml santan encer
2 sdm Minyak goreng
1/2 sdt Garam
1/2 sdt Kunyit bubuk
Cara Membuat:
Campur semua bahan, aduk rata dengan whisk sampai tidak ada gumpalan. Saring adonan agar halus.
Masukkan ke botol cetakan roti jala (lubang 3 atau 5).
Panaskan teflon dengan api kecil. Oles tipis minyak (sekali saja di awal).
Semprotkan adonan membentuk jaring-jaring melingkar.
Masak sebentar sampai adonan set (tidak perlu dibalik). Angkat, langsung lipat atau gulung selagi hangat agar tidak pecah.
Kari Ayam
Bahan:
500g Paha ayam (potong agak kecil).
2 buah Kentang (potong dadu).
2 sdm Bubuk kari (jadikan pasta dengan sedikit air).
400ml Santan kental.
Rempah daun: 2 batang serai, 3 lembar daun jeruk, 1 lembar daun kunyit
Bumbu halus: 6 Bawang merah, 4 Bawang putih, 2cm Jahe, 1cm Kunyit, 3 butir Kemiri.
Cara Membuat:
Tumis bumbu halus dan rempah daun sampai benar-benar matang dan harum.
Masukkan pasta bubuk kari, aduk rata sebentar.
Masukkan ayam, aduk sampai berubah warna. Tambahkan kentang.
Tuang santan. Masak dengan api sedang cenderung kecil sambil diaduk agar santan tidak pecah.
Bumbui dengan garam, gula, dan kaldu bubuk. Masak hingga kuah agak menyusut/mengental dan kentang empuk.




Comments