top of page

Dia masuk pelan. Tidak buru-buru, tapi juga tidak benar-benar santai. Masih pegang tas laptop di satu tangan, HP di tangan satunya. Seperti baru selesai sesuatu yang panjang. Pandangannya seperti terjebak di dunianya sendiri. Kemudian dia duduk tanpa lihat sekitarnya.


Pemilik depot sempat lihat. “Mau pesan apa?”


Dia jawab cepat, hampir tanpa mikir. “Apa saja.”


Pemilik depot mengangguk, lalu ke dapur.


Dia baru duduk, tapi pikirannya belum ikut duduk.

“Tadi harusnya gue push lagi sih…” katanya pelan. “Bagian warna itu masih bisa dikunci lebih kuat.”


Dia buka tas, keluarkan laptop sedikit, lalu tidak jadi. Ditutup lagi. “Client bilang sudah oke, tapi… masih bisa lebih.”


Dari dapur mulai ada suara minyak panas. Ayam masuk. Bunyi renyahnya kedengaran.


Dia tidak lihat, masih di dalam dunianya sendiri.


“Grid-nya juga… harusnya gue tahan aja yang versi awal. Kenapa gue ubah ya.”


Pemilik depot menyiapkan yang lain. Kubis diiris, dicampur saus. Kentang diaduk pelan.


“Padahal udah present, udah approve…” dia tarik napas. “Kenapa masih kepikiran.”


Piring ditaruh di depannya.



Dia tidak sadar kapan itu datang.


Tangannya jalan sendiri. Ambil ayam.


Suapan pertama.

“Font-nya juga harusnya...”


Dia berhenti.


Bukan karena pikirannya selesai. Tapi karena pikirannya terganggu oleh rasa yang masuk ke mulut.


Hangat. Renyah. Bawang putihnya langsung kena. Bersih, nggak berat.


Dia kunyah lagi, kali ini pelan.


Ambil lagi, sekalian dengan coleslaw. Dingin. Crunchy. Manis dan asam langsung motong.


Kentang nyusul. Lembut. Creamy.


Dia tidak ngomong lagi.


Baru sekarang dia lihat piringnya. “Ayam goreng?”


“Iya. Ayam goreng bawang putih dengan Coleslaw dan Potato Salad”


Dia lihat sekeliling, agak lama. “Ini… tempat apa ya?”


“Depot.”


Dia ketawa kecil. “Gue beneran nggak inget masuk ke sini.”


Dia makan lagi, pelan. Bahunya turun. Napasnya lebih panjang.

“Kayaknya… udah cukup deh.”


Dia berdiri. Sempat berhenti sebentar, ambil dompet, lalu geser sesuatu di meja.

“Thank you ya.”


Pemilik depot angguk.


Dia keluar. Jalan masih sama.

Dia jalan beberapa langkah. Lalu berhenti. Menoleh.

Harusnya ada depot di situ.


Dia maju satu langkah.

Tetap tidak ada.


Orang lewat biasa saja.


Dia diam beberapa detik.

Di mulutnya masih ada rasa bawang putih. Hangat. Bersih.

“Ya udah,” katanya pelan.


Lalu dia berjalan lenyap di telan kerumunan.




Ayam Goreng Bawang Putih 


Bahan

1 kg Ayam bagian sayap

Bumbu halus

10 siung bawang putih

4 siung bawang merah

2-3 sdt garam (sesuai selera)

1 sdt lada bubuk

1 sdt ketumbar bubuk

2 sdt kaldu bubuk

Air secukupnya

Bahan kering

10 sdm Tepung tapioka


Cara memasak

Campurkan bumbu halus ke sayap ayam dan di remas-remas sebentar.

Masukkan tepung tapioka dan aduk rata hingga tidak terlihat tepung kering.

Diamkan di kulkas 2-3 jam

Goreng dengan api sedang-besar sampai coklat keemasan.


Coleslaw (fresh, sweet tangy)


Bahan:

Kubis iris tipis

Wortel serut

Mayonnaise

Sedikit gula

Cuka / lemon

Garam, lada


Cara: 

  • Campur semua bahan. Aduk rata. 

  • Simpan dingin sebelum disajikan.


Potato Salad (creamy, smooth)


Bahan:

Kentang rebus

Mayonnaise

Sedikit mustard (opsional)

Bawang bombay cincang halus

Garam, lada


Cara: 

  • Campur semua bahan. Aduk pelan. 

  • Jangan terlalu hancur. Sajikan dingin.

 
 
 

Dia masuk agak cepat, pintunya sampai bunyi sedikit keras. Masih pegang HP, layar masih nyala. Seperti baru selesai telepon atau chat yang tidak enak. Dia duduk, tapi badannya masih tegang. Tangannya tidak benar-benar berhenti gerak.


“Flight saya di-cancel,” katanya, setengah ke dirinya sendiri. Lalu baru sadar ada orang di depannya. “Tadi. Tiba-tiba.”


Dia tarik kursi sedikit lebih dekat ke meja, lalu menghela napas panjang. “No option. Semua full.”


Pemilik depot cuma lihat sebentar, lalu kembali ke dapur. Tidak tanya macam-macam.


Dia usap wajahnya dua kali. “Mereka bilang fuel, war… harga naik. Jadi banyak flight dikurangin.” Dia ketawa kecil, tapi kosong. “Saya cuma mau pulang sih sebenarnya.”


Dari dapur mulai ada suara wajan dipanaskan. Pemilik depot ambil pan yang cukup besar. Tidak biasa untuk satu orang.


Dia sempat lihat ke sana. “Harusnya minggu ini saya sudah di rumah,” lanjutnya, suaranya lebih turun. “Sudah lama di sini. Capek juga.”


Tidak ada yang menyela. Minyak masuk ke pan. Lalu bawang putih. Suara tumis pelan. Setelah itu tomat dan paprika. Bau gurihnya tomat langsung naik, campur dengan panas minyak.


Dia berhenti bicara sebentar, hidungnya seperti ikut kerja.

“Itu… apa?” tanyanya.

“Paella,” jawab pemilik depot.

Dia agak kaget.“Serius?”


Dia lihat lebih lama sekarang.

“Di sini?”


Pemilik depot tidak menjelaskan. Lanjut saja. Beras masuk ke pan. Diaduk sebentar. Lalu kaldu udang dituangkan. Di aduk sebentar dan seafood di tata di atasnya.


Dia sedikit maju di kursinya.

“Saya dari Spanyol,” katanya. “Itu… makanan rumah.”


Pemilik depot cuma angguk kecil.


Dia diam sebentar, lalu lanjut sendiri.

“Biasanya dimakan ramai-ramai. Weekend. Keluarga datang. Ribut.” Dia senyum dikit, tapi cepat hilang. “Sekarang saya di sini. Sendiri.”


Beberapa detik sepi. Hanya suara masakan. Dia ambil HP lagi. Lihat harga tiket. Geser. Tutup lagi.


“Kalau beli lagi… mahal banget,” katanya. “Kayak… tidak masuk akal.” Dia geleng kepala pelan. “Tapi kalau tidak beli… saya juga tidak tahu mau nunggu apa.”


Pemilik depot mengecilkan api.

“Lapar?” tanyanya.


Dia lihat ke arah dapur, lalu balik lagi ke meja.“Iya sih.”


Beberapa menit kemudian, pan itu dipindahkan. Isinya ditaruh ke piring besar. Warnanya kuning, ada seafood di atasnya. Bagian bawahnya kelihatan agak kering.

Ditaruh di depannya.



Dia tidak langsung makan. Lihat dulu, seperti memastikan. Lalu ambil sendok. Suapan pertama masuk. Dia berhenti. Tidak langsung komentar. Ngunyah pelan, seperti lagi nyari sesuatu.

“Mirip,” katanya akhirnya.


Dia tarik napas sedikit lewat hidung, lalu makan lagi. Kali ini tidak terlalu mikir.

Beberapa suapan berikutnya lebih cepat. Badannya mulai turun. Bahunya tidak setegang tadi. Dia sandar sedikit di kursi. “Ini… lama banget saya tidak makan yang begini,” katanya, lebih ke dirinya sendiri. Dia lihat HP lagi. Kali ini tidak langsung ditutup. “Ya sudah,” katanya pelan. “Saya beli lagi saja.”


Dia mulai klik-klik. Wajahnya masih mikir, tapi tidak panik. “Harganya gila,” dia senyum tipis. “Tapi ya… pulang ya pulang.”


Dia lanjut makan sampai habis. Tidak banyak sisa. Dia berdiri, agak pelan. Tidak terburu-buru seperti waktu masuk. “Thank you,” katanya. Lalu nambah, “Tadi… lumayan bantu.”


Pemilik depot cuma angguk.


Dia keluar. Udara luar tidak beda. Masih malam, masih ada orang lewat, motor lewat, suara biasa. Dia berdiri di depan sebentar. Cek HP. Tiket baru sudah masuk. Dia tarik napas. Lalu menoleh ke belakang. Dia agak berhenti. Harusnya ada depot di situ. Yang tadi. Lampu hangat. Dapur kebuka.


Tapi yang ada cuma deretan toko biasa. Beberapa sudah tutup, rolling door turun. Tidak ada yang kelihatan beda.


Dia maju satu langkah. Lihat lagi. Masih sama. Orang di sampingnya lewat saja, tidak ada yang berhenti. Dia berdiri beberapa detik. Di mulutnya masih ada rasa nasi yang sedikit kering di bawah. Hangat, agak asin.


Dia menelan pelan.

“Ya,” katanya.


Tidak jelas ke siapa. Lalu dia masukin HP ke kantong, dan jalan.




Seafood Paella (Valenciana Style)


Bahan:

200 g beras (short grain kalau ada, kalau tidak pakai beras biasa)

500 ml kaldu rebusan kulit udang

150 g udang

150 g cumi, potong cincin

150 g kerang (opsional tapi recommended)

3 siung bawang putih, cincang

1/2 bawang bombay, cincang

1 buah tomat, parut atau cincang halus

1/2 sdt paprika bubuk

1/2 sdt kunyit atau saffron (opsional tapi bagus)

Garam secukupnya

Minyak zaitun atau minyak biasa

Lemon (optional, untuk finishing)


Cara Membuat:

  • Panaskan minyak di pan datar besar ukuran 20cm atau 22cm.

  • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.

  • Masukkan tomat, masak sampai wangi.

  • Tambahkan paprika dan kunyit/saffron.

  • Masukkan beras, aduk rata.

  • Tuang kaldu. Aduk sebentar hanya untuk meratakan berasnya saja.

  • Susun seafood di atas (udang, cumi, kerang).

  • Masak dengan api kecil sampai air menyerap.

  • Biarkan bagian bawah sedikit kering (ini ciri khas paella). Tunggu hingga ada suara mendesis dari dasar pan dan ada bau sedikit gosong. 

  • Angkat, beri perasan lemon kalau suka.

 
 
 

Malam itu jalanan masih ramai. Di antara deretan toko, ada satu depot kecil dengan lampu hangat dan tulisan kapur di kaca:


Menu hari ini: Roti Jala Kari Ayam


Seorang pria berhenti. Istrinya berdiri di samping sambil menggendong anak kecil yang terus melihat ke dalam. “Masuk yuk,” katanya. Mereka masuk.


Di dalam lebih tenang. Dari dapur terbuka, panci kari ayam mengepul. Bau rempahnya kuat. Kayu manis, kapulaga, santan. Hangat.


Pemilik depot menuang adonan ke wajan datar. Dari botol kecil, adonan jatuh membentuk garis tipis seperti jaring. Anak kecil itu langsung menunjuk. “Ayah, itu apa?” 

“Itu roti jala,” jawabnya. “Kayak jaring.”



Pria itu duduk, matanya tidak lepas dari dapur. “Ini makanan dari kampung saya. Di Aceh.” 

Istrinya mengangguk. “Yang kamu cerita, pas Lebaran itu ya?” 

“Iya.” Dia berhenti sebentar. “Sekarang… sudah tidak ada siapa-siapa di sana.”

Istrinya diam, hanya mengusap punggung anak mereka. Pemilik depot tetap bekerja, menuang kari ke mangkuk. Kuahnya kental, minyak rempah mengapung tipis.


“Orang tua sudah tidak ada. Rumah juga sudah dijual,” lanjut pria itu pelan. “Saya sudah lama tidak makan ini.”


Beberapa menit kemudian, sepiring roti jala dan semangkuk kari ayam disajikan. Uap naik pelan. Anak kecil itu langsung mencoba. “Enak!” katanya. 

Istrinya ikut mencicipi. “Ini yang kamu maksud ya. Enak.”


Pria itu baru makan. Dia mencelupkan roti jala ke kari, lalu menyuap. Dia berhenti sebentar.


Rasanya datang pelan. Familiar.


Anaknya tertawa kecil di sampingnya. Istrinya tersenyum. Untuk beberapa detik, tidak ada yang hilang.


“Saya tidak bisa masak ini,” katanya tiba-tiba. 

“Belajar aja,” jawab istrinya. 

Dia tertawa kecil. “Saya dari dulu cuma makan.”


Dia menoleh ke dapur. “Kalau saya mau belajar… bisa?” 

Pemilik depot mengangguk. “Bisa.”


“Saya ingin anak saya kenal makanan ini.”


Pemilik depot menuang sedikit kari tambahan. 

“Tradisi tetap ada… selama masih ada yang membuatnya.”


Pria itu melihat anaknya yang makan dengan lahap. Lalu tersenyum. “Berarti saya harus mulai ya.” 

“Iya. Kita belajar sama-sama,” jawab istrinya.


Mereka makan sampai habis.


Sebelum pergi, pria itu berkata pelan, “Besok kita coba ya.” 

Istrinya mengangguk.


Mereka keluar. Jalan masih ramai. Pria itu menoleh sebentar.


Depot kecil itu sudah tidak ada.


Dia diam sejenak, lalu menggenggam tangan anaknya. 

“Namanya roti jala,” katanya.


Anaknya mengulang pelan, 

“Roti… jala.”


Mereka berjalan pulang.




Roti Jala


Bahan:

250g Tepung terigu protein sedang

2 butir Telur ayam

450-500ml santan encer

2 sdm Minyak goreng

1/2 sdt Garam

1/2 sdt Kunyit bubuk


Cara Membuat:

  • Campur semua bahan, aduk rata dengan whisk sampai tidak ada gumpalan. Saring adonan agar halus.

  • Masukkan ke botol cetakan roti jala (lubang 3 atau 5).

  • Panaskan teflon dengan api kecil. Oles tipis minyak (sekali saja di awal).

  • Semprotkan adonan membentuk jaring-jaring melingkar.

  • Masak sebentar sampai adonan set (tidak perlu dibalik). Angkat, langsung lipat atau gulung selagi hangat agar tidak pecah.


Kari Ayam


Bahan:

500g Paha ayam (potong agak kecil).

2 buah Kentang (potong dadu).

2 sdm Bubuk kari (jadikan pasta dengan sedikit air).

400ml Santan kental.


Rempah daun: 2 batang serai, 3 lembar daun jeruk, 1 lembar daun kunyit


Bumbu halus: 6 Bawang merah, 4 Bawang putih, 2cm Jahe, 1cm Kunyit, 3 butir Kemiri.


Cara Membuat:

  • Tumis bumbu halus dan rempah daun sampai benar-benar matang dan harum.

  • Masukkan pasta bubuk kari, aduk rata sebentar.

  • Masukkan ayam, aduk sampai berubah warna. Tambahkan kentang.

  • Tuang santan. Masak dengan api sedang cenderung kecil sambil diaduk agar santan tidak pecah.

  • Bumbui dengan garam, gula, dan kaldu bubuk. Masak hingga kuah agak menyusut/mengental dan kentang empuk.

 
 
 

© 2025 by Be. Powered and secured by Wix

    bottom of page