top of page

Episode: Nasi Ayam Hainan

  • bybecreation
  • Feb 6
  • 3 min read

Updated: Feb 7


Depot Jivana malam itu terang sendirian di antara kios yang sudah tutup. Lampu-lampu luar dingin, tapi dari kaca depot keluar warna hangat seperti sore yang tidak selesai. Begitu pintu ditutup, udara berubah. Tidak ada gema langkah. Bahkan suara napas terdengar lebih jelas dari biasanya.


Seorang perempuan masuk sambil memegang amplop cokelat yang sudah terlipat-lipat. Dia duduk tanpa melepas tas. Jarinya tidak berhenti meremas kertas itu. Dia tidak melihat dapur, tidak melihat ruangan. Matanya hanya ke meja.


Bau nasi gurih dari rice cooker. Ada bau kaldu ayam dan rempah seperti jahe, bawang-bawangan dan daun bawang. Di sekitar talenan semua sudah tersusun rapi segala peralatan dan bahan-bahan pendukung seperti daun bawang, minyak bawang putih renyah, dan sambal merah.


Perempuan itu mulai bicara tanpa pembuka.


Katanya ibunya meninggalkan dia waktu kecil. Dia dibesarkan neneknya. Katanya dia sudah lama memutuskan untuk marah saja supaya hidup lebih mudah. Minggu ini ibunya meninggal. Dia datang ke pemakaman bukan karena mau, tapi karena diminta. Keluarga baru ibunya memberi amplop. Isinya surat dan bukti transfer bertahun-tahun. Semua uang untuk hidup dia dan neneknya ternyata dari ibunya. Nenek tidak pernah bilang. Dia bilang itu uang pensiun kakek.


Ayam rebus diangkat dari panci kaldu. Kulitnya mengilap, dagingnya masih lembut. Dipotong pelan, potongannya rapi, tidak robek. Nasi matang mengeluarkan bau gurih yang dalam, seperti dapur yang sudah lama dikenal. Kaldu jernih disaring, lalu dituang ke mangkuk kecil yang berisi potongan daun bawang dan minyak bawang putih renyah.

Perempuan itu berhenti bicara. Tangannya masih memegang amplop yang sudah kusut. Suara sendok menyentuh mangkuk terdengar jelas. Tidak ada yang lain.


Pemilik depot akhirnya bicara.


“Nikmati dulu tahap kebingunganmu ini,” katanya tenang. “Semua ada tahapannya yang tidak terikat waktu. Lihat sekelilingmu. Jawaban sering datang dari tempat yang tidak kamu duga.”


Piring Nasi Ayam Hainan disajikan hangat. Uap naik pelan. Dia mencium dulu sebelum makan. Nasinya gurih dari kaldu, ayamnya lembut dan bersih rasanya. Kuahnya ringan tapi mengisi. Dia berhenti mengunyah sebentar. Untuk beberapa detik kepalanya kosong. Hangatnya sampai ke langit-langit mulut. Gurih kaldu menyebar tanpa berat. Ayamnya lembut, hampir tidak perlu dikunyah.


Katanya pelan, hampir seperti bicara ke dirinya sendiri, ibunya dulu sering membuat nasi seperti ini sebelum pergi. Dia tidak ingat sudah berapa lama tidak merasakan rasa yang sama. Pagi sebelum sekolah. Dia tiba-tiba ingat duduk di bangku dapur lama, kaki tidak sampai lantai.


Dia makan sampai habis tanpa bicara lagi. Bahunya turun sedikit. Amplop itu sekarang tergeletak di meja, kalah penting dari sepiring nasi ayam hainan. Untuk beberapa detik, tidak ada pemakaman. Tidak ada surat. Tidak ada kebencian. Hanya dapur lama yang hangat.


Waktu di dalam depot tetap diam, detik tidak bergerak, waktu membeku.


Dia melihat pemilik depot seperti ingin mengatakan sesuatu, akhirnya keluar ucapan:

Terima kasih… pak.


Pintu terbuka. Suara malam kembali masuk. Orang-orang berjalan seperti biasa.


Di kaca depot, pantulannya hanya menunjukkan meja kosong dan panci yang sudah tertutup. Hangatnya masih ada, tapi tidak terlihat dari luar.

 

Resep Nasi Ayam Hainan

Bahan:

½ ekor ayam

360 gr beras

1 liter air

2 batang daun bawang

1 ruas jempol jahe, potong pipih

10 siung bawang putih, di cincang halus

50 ml minyak goreng

Minyak wijen

Saus Tiram

Garam


Bahan Sambal:

3 buah cabe merah keriting

1 buah cabe merah besar

2 siung bawang putih

1 sdt Jahe cincang  

1 sdt gula

75ml air

Cuka sesuai selera

Daun Pakcoy di rebus sebentar dan irisan timun sebagai pelengkap

 

Cara membuat:

  1. Rebus ayam dengan 1 liter air, irisan jahe ½ resep, daun bawang bagian putihnya saja, 1 sdt garam dan ½ sdt lada. Didihkan dan rebus dengan api sedang kecil sampai empuk, kira-kira 40 menit.

  2. Angkat ayam, kuas tipis permukaan ayam dengan minyak wijen supanya mengkilat dan tidak kering.

  3. Ambil kaldu 500ml, daun bawang dan jahenya. Sisa kaldu di simpan untuk kuah.

  4. Cincang halus bawang putih dan ½ resep jahe. Tumis dengan minyak hingga coklat pucat. Matikan api dan biarkan hingga dingin. Proses ini membiarkan pemasakan dengan sisa panas yang ada.

  5. Cuci beras 1x saja. Masukkan ke panci rice cooker, tuang 500ml kaldu ayam tadi, 1 sdt minyak wijen, 1 sdm minyak bawang putih+jahe, saus tiram, 1 sdt garam. Masak hingga matang.

  6. Untuk kuah siraman ayam, campurkan 50ml kaldu, 1 sdm kecap asin, 1 sdm minyak bawang putih+jahe, dan 1 sdt minyak wijen. Sisihkan.

  7. Untuk sambal, blender kasar semua bahan dan panaskan dalam panci hingga mendidih. Kira-kira 1-2 menit setelah mendidih, matikan api dan tuang cuka. Sisihkan.

  8. Untuk penyajian:

    1. Cetak nasi dengan mangkok, taburi dengan daun bawang. Letakkan daun Pakcoy rebus dan irisan timun di sekitar nasi.

    2. Potong ayam sesuai selera. Siram dengan kuah siraman dan siram dengan minyak bawang putih+jahe.

    3. Untuk kuah kaldu, ambil sedikit kaldu sisa ke dalam mangkok kecil, beri irisan daun bawang, minyak bawang putih+jahe, sedikit garam+lada sesuai selera.

    4. Sambal di mangkuk sambel terpisah.

Comments


© 2025 by Be. Powered and secured by Wix

    bottom of page