Episode: Nastar vs Kastengel
- bybecreation
- Feb 28
- 3 min read
Blok M malam itu penuh. Orang berburu tempat buka puasa. Semua restoran penuh. Waiting list panjang. Dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu berdiri di trotoar dengan wajah setengah lapar setengah kesal.
“Harusnya kita booking,” kata yang satu.
“Harusnya kamu yang booking,” jawab yang lain.
Mereka tertawa kecil, tapi jelas sama-sama capek.
Di sudut jalan, ada depot kecil yang entah sejak kapan ada di situ. Lampunya hangat, tidak terlalu terang, tapi cukup membuat orang berhenti.
“Coba situ aja?”
“Kayaknya sepi.”
“Justru itu.”
Mereka masuk.
Udara di dalam lebih tenang dari luar. Tidak ada antrean. Tidak ada suara gaduh. Hanya aroma makanan hangat dan toples-toples kaca di rak kayu belakang dapur.
Pemilik depot menyambut dengan anggukan kecil. Tidak banyak tanya.
Mereka berbuka dengan sederhana. Makanan hangat, minuman manis, percakapan yang akhirnya mengalir setelah lama tidak bertemu.
Setelah piring hampir kosong, salah satu dari mereka menunjuk rak belakang.
“Eh, itu nastar ya?”
“Dan kastengel,” jawab temannya cepat. “Tim kastengel, jelas.”
“Ah, klasik. Tim gurih. Padahal Lebaran itu identik sama nastar.”
“Lebaran itu rame. Kastengel lebih sophisticated.”
“Apaan sih. Nastar itu nostalgia.”
“Kastengel itu karakter.”
Mereka mulai saling serang ringan. Suara naik sedikit. Tawa ikut naik.
Pemilik depot mengambil dua piring kecil tanpa diminta. Satu berisi nastar dengan selai nanas yang mengilap. Satu lagi kastengel dengan taburan keju yang kecokelatan.
Dia letakkan masing-masing di depan mereka.
“Coba lagi,” katanya tenang.

Yang tim kastengel menggigit dulu. Renyah di luar, gurih beberapa jenis keju langsung terasa. Dia mengangguk pelan.
Yang tim nastar menyuap. Lembut, manis nanasnya tidak menusuk, aroma butter. Dia menutup mata sebentar.
Mereka saling tukar kue tanpa sadar.
Kali ini tidak ada debat. Hanya bunyi kunyah dan anggukan kecil.
“Eh… iya juga sih,” kata yang satu.
“Enak dua-duanya ya,” jawab yang lain.
Pemilik depot baru bicara.
“Lebaran itu bukan soal pilih manis atau gurih,” katanya ringan. “Kadang yang bikin lengkap justru karena dua-duanya ada di meja.”
Mereka tertawa lepas.
Tawa yang bukan cuma soal kue. Tapi soal waktu yang akhirnya bisa duduk bersama lagi.
Di luar, Blok M masih ramai. Di dalam depot, dua sahabat itu akhirnya memesan masing-masing dua toples. Satu kastengel. Satu nastar.
“Biar adil,” kata yang satu.
“Biar lengkap,” jawab yang lain.
Mereka keluar dengan kantong kertas di tangan, masih berdebat kecil tapi kali ini tanpa nada defensif.
Saat mereka menoleh sebentar untuk melihat papan nama depot itu lagi, sudut jalan sudah kembali penuh dengan orang berlalu lalang. Tidak ada yang terlihat berbeda.
Tapi dua toples di tangan mereka terasa cukup untuk satu Lebaran yang utuh.

Resep
Kastengel
Bahan:
300 gr Tepung Terigu rendah protein
100 gr Margarin
100 gr Butter
100 gr Keju Cheddar
50 gr Keju Edam
3 Kuning Telur
Topping:
30 gr keju parut
2 kuning telur
Cara membuat:
Parut semua keju, campur dengan tepung terigu dan sisihkan.
Pastikan suhu margarin dan butter dalam suhu ruang. Aduk margarin dan butter dengan menggunakan spatula (metode creaming).
Masukkan kuning telur aduk hingga tidak ada lagi terlihat jejak telur.
Masukkan campuran butter dan bahan kering menjadi satu. Aduk hanya sampai tidak terlihat lagi bahan kering.
Cetak sesuai dengan keinginan. Panggang di suhu 160°C hingga tidak ada buih kecil yang muncul dari adonan.
Angkat dan dinginkan sebelum di masukkan ke dalam toples.
Nastar
Bahan:
Isian:
1500 g Nanas kupas (tanpa kulit dan inti)
200 g Gula pasir
1 sdt Garam
2 batang Kayu manis batang
7 butir Cengkeh
Kulit:
200 g Butter
150 g Margarin
25 g Wijsman
30 g Gula halus
3 Kuning telur
525 g Tepung Terigu protein rendah
30 g Tepung Maizena
40 g Susu bubuk
1/2 sdt Vanila
Olesan:
4 Kuning telur (telur bebek atau telur omega).
15 g Minyak goreng
10 g Susu kental manis
Cara membuat:
Isian: Parut nanas menggunakan parutan kelapa untuk mempertahankan seratnya.
Gunakan wajan anti lengket atau stainless steel tebal untuk memasak. Masak nanas, cengkeh dan kayu manis hingga susut sekitaran 75%.
Masukkan gula dan garam.
Aduk terus dengan menggunakan api kecil hingga warna hitam keemasan dan kalis, tidak menempel di wajan lagi. Dinginkan.
Bulir dengan berat sekitar 3 gr.
Kulit: Aduk dan ayak semua bahan kering.
Aduk margarin, butter dan wijsman yang bersuhu ruang dengan menggunakan spatula (proses creaming). Masukkan kuning telur dan vanilla. Aduk hanya hingga kuning telur tidak terlihat.
Masukkan bahan kering ke campuran butter. Aduk hanya sampai rata, tidak ada lagi terlihat bahan kering.
Bulatkan adonan 6-7gr.
Pipihkan adonan kulit, dan bungkus selai nanas dengan adonan kulit. Letakkan di loyang.
Panggang dengan suhu 150°C selama 25 menit. Dinginkan selama 10 menit.
Kocok rata adonan olesan. Oleskan di atas nastar yang sudah agak dingin dan panggang lagi selama 10 menit.
Angkat dan dinginkan sebelum masuk ke dalam toples.




Comments