top of page

Blok M malam itu penuh. Orang berburu tempat buka puasa. Semua restoran penuh. Waiting list panjang. Dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu berdiri di trotoar dengan wajah setengah lapar setengah kesal.


“Harusnya kita booking,” kata yang satu.


“Harusnya kamu yang booking,” jawab yang lain.


Mereka tertawa kecil, tapi jelas sama-sama capek.


Di sudut jalan, ada depot kecil yang entah sejak kapan ada di situ. Lampunya hangat, tidak terlalu terang, tapi cukup membuat orang berhenti.


“Coba situ aja?” 

“Kayaknya sepi.” 

“Justru itu.”


Mereka masuk.


Udara di dalam lebih tenang dari luar. Tidak ada antrean. Tidak ada suara gaduh. Hanya aroma makanan hangat dan toples-toples kaca di rak kayu belakang dapur.

Pemilik depot menyambut dengan anggukan kecil. Tidak banyak tanya.


Mereka berbuka dengan sederhana. Makanan hangat, minuman manis, percakapan yang akhirnya mengalir setelah lama tidak bertemu.


Setelah piring hampir kosong, salah satu dari mereka menunjuk rak belakang.


“Eh, itu nastar ya?”


“Dan kastengel,” jawab temannya cepat. “Tim kastengel, jelas.”


“Ah, klasik. Tim gurih. Padahal Lebaran itu identik sama nastar.”


“Lebaran itu rame. Kastengel lebih sophisticated.”


“Apaan sih. Nastar itu nostalgia.”


“Kastengel itu karakter.”


Mereka mulai saling serang ringan. Suara naik sedikit. Tawa ikut naik.


Pemilik depot mengambil dua piring kecil tanpa diminta. Satu berisi nastar dengan selai nanas yang mengilap. Satu lagi kastengel dengan taburan keju yang kecokelatan.


Dia letakkan masing-masing di depan mereka.


“Coba lagi,” katanya tenang.




Yang tim kastengel menggigit dulu. Renyah di luar, gurih beberapa jenis keju langsung terasa. Dia mengangguk pelan.


Yang tim nastar menyuap. Lembut, manis nanasnya tidak menusuk, aroma butter. Dia menutup mata sebentar.


Mereka saling tukar kue tanpa sadar.


Kali ini tidak ada debat. Hanya bunyi kunyah dan anggukan kecil.


“Eh… iya juga sih,” kata yang satu.


“Enak dua-duanya ya,” jawab yang lain.


Pemilik depot baru bicara.


“Lebaran itu bukan soal pilih manis atau gurih,” katanya ringan. “Kadang yang bikin lengkap justru karena dua-duanya ada di meja.”


Mereka tertawa lepas.


Tawa yang bukan cuma soal kue. Tapi soal waktu yang akhirnya bisa duduk bersama lagi.


Di luar, Blok M masih ramai. Di dalam depot, dua sahabat itu akhirnya memesan masing-masing dua toples. Satu kastengel. Satu nastar.


“Biar adil,” kata yang satu.


“Biar lengkap,” jawab yang lain.


Mereka keluar dengan kantong kertas di tangan, masih berdebat kecil tapi kali ini tanpa nada defensif.


Saat mereka menoleh sebentar untuk melihat papan nama depot itu lagi, sudut jalan sudah kembali penuh dengan orang berlalu lalang. Tidak ada yang terlihat berbeda.


Tapi dua toples di tangan mereka terasa cukup untuk satu Lebaran yang utuh.


Resep

Kastengel

Bahan:

300 gr Tepung Terigu rendah protein 

100 gr Margarin

100 gr Butter

100 gr Keju Cheddar

50 gr Keju Edam

3 Kuning Telur


Topping:

30 gr keju parut

2 kuning telur


Cara membuat:

  1. Parut semua keju, campur dengan tepung terigu dan sisihkan.

  2. Pastikan suhu margarin dan butter dalam suhu ruang. Aduk margarin dan butter dengan menggunakan spatula (metode creaming).

  3. Masukkan kuning telur aduk hingga tidak ada lagi terlihat jejak telur.

  4. Masukkan campuran butter dan bahan kering menjadi satu. Aduk hanya sampai tidak terlihat lagi bahan kering.

  5. Cetak sesuai dengan keinginan. Panggang di suhu 160°C hingga tidak ada buih kecil yang muncul dari adonan.

  6. Angkat dan dinginkan sebelum di masukkan ke dalam toples.


Nastar

Bahan:

Isian:

1500 g Nanas kupas (tanpa kulit dan inti)

200 g Gula pasir

1 sdt Garam 

2 batang Kayu manis batang

7 butir Cengkeh


Kulit:

200 g Butter

150 g Margarin

25 g Wijsman

30 g Gula halus

3 Kuning telur 

525 g Tepung Terigu protein rendah

30 g Tepung Maizena

40 g Susu bubuk

1/2 sdt Vanila


Olesan:

4 Kuning telur (telur bebek atau telur omega).

15 g Minyak goreng

10 g Susu kental manis


Cara membuat:

  1. Isian: Parut nanas menggunakan parutan kelapa untuk mempertahankan seratnya.

  2. Gunakan wajan anti lengket atau stainless steel tebal untuk memasak. Masak nanas, cengkeh dan kayu manis hingga susut sekitaran 75%.

  3. Masukkan gula dan garam.

  4. Aduk terus dengan menggunakan api kecil hingga warna hitam keemasan dan kalis, tidak menempel di wajan lagi. Dinginkan.

  5. Bulir dengan berat sekitar 3 gr. 

  6. Kulit: Aduk dan ayak semua bahan kering. 

  7. Aduk margarin, butter dan wijsman yang bersuhu ruang dengan menggunakan spatula (proses creaming). Masukkan kuning telur dan vanilla. Aduk hanya hingga kuning telur tidak terlihat.

  8. Masukkan bahan kering ke campuran butter. Aduk hanya sampai rata, tidak ada lagi terlihat bahan kering.

  9. Bulatkan adonan 6-7gr.

  10. Pipihkan adonan kulit, dan bungkus selai nanas dengan adonan kulit. Letakkan di loyang.

  11. Panggang dengan suhu 150°C selama 25 menit. Dinginkan selama 10 menit.

  12. Kocok rata adonan olesan. Oleskan di atas nastar yang sudah agak dingin dan panggang lagi selama 10 menit.

  13. Angkat dan dinginkan sebelum masuk ke dalam toples.

 
 
 
  • Feb 21
  • 3 min read

Hujan masih turun waktu dia keluar dari rumah sakit. Bukan hujan deras, tapi cukup untuk membuat udara jadi dingin dan pakaian lembap. Dia sudah duduk terlalu lama di kursi ruang tunggu ICU. Tidak bisa tidur. Tidak bisa diam. Jadi dia jalan saja tanpa tujuan.


Lampu sebuah depot kecil masih menyala di ujung jalan. Dia tidak ingat pernah melihat tempat itu sebelumnya. Tapi pintunya terbuka. Udara hangat langsung terasa begitu dia masuk. Bau kaldu ayam ringan memenuhi ruangan. Tidak ramai. Tidak ada musik. Hanya suara kukusan pelan dari dapur.


Dia duduk tanpa membuka jaket.


Pemilik depot sudah bekerja tanpa bertanya apa-apa. Kukusan dibuka. Uap naik pelan. Nasi tim ayam dipindahkan dengan di balik dari mangkok ke piring keramik. Potongan ayam di atasnya lembut. Kuah kaldu dituangkan ke mangkok terpisah. 


Pria itu bicara duluan. “Istri saya di ICU,” katanya. Suaranya datar, seperti kalimat yang sudah diulang berkali-kali. “Kanker stadium empat.”


Pemilik depot mengangguk kecil.


“Kata dokter sekarang tinggal nunggu respon tubuh,” lanjutnya. “Semua orang bilang saya harus kuat. Saya capek dengar kata kuat.” Dia mengusap wajah dengan kedua tangan. “Saya cuma… takut tidur. Takut kalau saya tutup mata, ada yang berubah.”



Pemilik depot mendorong mangkok nasi tim ke arahnya. “Kamu sudah makan?” tanyanya pelan.


Pria itu menggeleng.


“Istri saya dulu sering bikin ini,” katanya saat melihat mangkok. “Nasi tim ayam. Setiap pagi sebelum saya kerja. Saya makan sambil berdiri. Selalu buru-buru.” Dia tertawa kecil, tapi suaranya patah. “Harusnya saya duduk.”

Ruangan sunyi beberapa detik.


Pemilik depot bicara pelan.


“Menunggu itu bukan kosong,” katanya. “Kamu sedang mencintai dia dengan cara yang paling sunyi.”


Pria itu tidak langsung menjawab. Dia menyendok pertama. Nasi lembut langsung hancur di mulut. Hangatnya turun pelan ke dada. Rasa kaldu ringan, bersih. Ayamnya empuk. Dia berhenti mengunyah sebentar. Matanya menutup.


Suapan kedua datang lebih pelan. Bahu pria itu turun sedikit. Napasnya lebih panjang. Tangannya tidak gemetar lagi. Dia makan sampai mangkok kosong tanpa bicara.


Setelah selesai, dia duduk beberapa detik, menatap mangkok seperti masih ada sesuatu di dalamnya.


“Terima kasih,” katanya akhirnya.


Pemilik depot hanya mengangguk.


Pintu terbuka. Udara dingin masuk lagi bersama suara hujan.


Pria itu berjalan kembali ke arah rumah sakit tanpa menoleh.


Di dalam depot, kukusan sudah tertutup. Meja kembali rapi. Bau kaldu masih ada, tipis, seperti sesuatu yang baru saja terjadi tapi tidak bisa dibuktikan.


Resep


Ayam Kecap

1/2 kg Daging Ayam

5 pcs Jamur Shitake

1 pcs Bawang Bombay ukuran sedang

5 siung Bawang putih

5 tbsp Kecap Asin

3 tbsp Kecap Manis

1/2 tbsp Minyak Wijen

1 tbsp Kaldu bubuk

1 tbsp Sauce Tiram

1/2 tbsp Kecap Ikan

1 tsp Lada Putih

1 tsp Ngo Hiong


Kuah Kaldu

1 liter Kaldu Ayam

1 ruas Jahe


Beras sesuai dengan kebutuhan

Daun bawang

Telur rebus


Cara membuat

  1. Cuci dan rendam beras selama 1 jam.

  2. Potong dadu Ayam, potong diagonal jamur shitake, cincang bawang bombai dan bawang putih.

  3. Tumis bawang bombai sampai layu, kemudian masukkan bawang putih. Tumis hingga wangi.

  4. Masukkan daging ayam, tumis hingga daging ayam menyusut.

  5. Terakhir masukkan semua bumbu. Tumis sebentar hingga semua tercampur rata dan ayam berubah warna.

  6. Rebus kaldu ayam dan geprekan jahe hingga jahe lunak.

  7. Siapkan kukusan besar.

  8. Ambil satu mangkok kukus, tata telur potong di tengah, tata jamur shitake, dan ambil beberapa sendok ayam kecap hingga menutupi telur.

  9. Isi tirisan beras hingga menutupi 2/3 tinggi mangkok.

  10. Tuangkan kuah kaldu hingga merendam tinggi beras.

  11. Masukkan mangkok ke dalam kukusan dan kukus sekitar 10-15 menit, tergantung dengan besarnya mangkok/banyaknya beras.

  12. Angkat dan balik mangkok ke piring saji.

  13. Sajikan dengan taburan daun bawang dan kuah kaldu.

 
 
 

Depot Jivana malam itu seperti potongan cahaya yang tertinggal saat kota sudah mulai redup. Di luar orang masih berjalan cepat, tapi di dalam udara terasa lebih lambat. Bau rempah hangat menggantung, berat tapi menenangkan.


Seorang pria masuk dengan langkah keras lalu berhenti mendadak seperti lupa mau ke mana. Seragam kerjanya masih penuh debu. Di tangannya ada kotak perhiasan kecil yang sudah lecet di sudutnya.


Dia melihat sekeliling sebentar.


“Baru tahu ada depot di sini,” katanya pelan. “Baru ya pak?”


Pemilik depot tidak menjawab. Tangannya sudah membuka kukusan. Uap tebal naik membawa bau nasi kebuli. Pria itu mengerutkan dahi sedikit, seperti mencoba mengingat sesuatu, lalu duduk.



Kotak kecil itu tidak pernah lepas dari genggamannya.


Pemilik depot menyendok nasi ke piring besar. Di sisi lain, potongan daging kambing diangkat dari grill. Permukaannya kecokelatan, bagian dalamnya masih berair. Dia tidak menoleh, tapi jelas mendengarkan.


Pria itu mulai bicara.


Katanya dia melamar perempuan yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Keluarganya menolak. Bukan karena dia jahat. Bukan karena dia tidak bertanggung jawab. Hanya karena pekerjaannya. Mereka ingin menantu yang kerja di kantor, pakai sepatu bersih, bukan orang lapangan yang pulang dengan baju kotor.

Dia tertawa pendek.


Katanya lucu, tapi tidak terasa lucu.


Pemilik depot menata nasi, menaruh daging di atasnya, lalu menaburkan kismis dan bawang goreng. Segelas teh melati hangat diletakkan di samping piring. Uap tipis naik.


Pria itu bilang dia tidak tahu harus marah ke siapa. Ke keluarga perempuan itu? Ke dirinya sendiri? Atau ke dunia yang mengukur orang dari seragamnya?


Lalu dia diam.


Pemilik depot akhirnya bicara.


“Kalau dia memang jodohmu,” katanya tenang, “pasti akan ada jalannya. Berbanggalah pada perjuanganmu sampai saat ini.”


Hanya itu.


Pria itu menyuap pertama. Ledakan rempah memenuhi mulutnya. Manis kismis muncul di tengah, lalu daging kambing yang lembut lepas tanpa perlawanan. Matanya sedikit terbuka. Dia mengunyah pelan. Suapan kedua datang tanpa suara. Bahunya turun.


Untuk beberapa detik, tidak ada penolakan. Tidak ada harga diri yang terluka. Hanya nasi hangat dan teh melati yang menenangkan tenggorokan.


Dia makan sampai piring kosong. Gelas di sampingnya ikut kering.


Kotak kecil itu masih digenggam, tapi tidak lagi diremas. Dia memasukkannya ke kantung jaket dengan gerakan tenang.


Dia berdiri. Menatap ruangan sebentar seperti mencoba menyimpan letaknya di kepala.


“Terima kasih,” katanya.


Pintu terbuka. Udara luar masuk lagi bersama suara kota.

Saat dia menoleh sekali lagi, sudut jalan itu hanya gelap seperti kios yang sudah lama tutup.



Resep


Bahan Utama

500 gram daging kambing (potong dadu kecil agar muat di rice cooker dan meresap)

350 gram beras basmati (cuci bersih, rendam sekitar 20 menit, lalu tiriskan)

500 - 550 ml air kaldu kambing (karena rice cooker kedap udara dan minim penguapan, airnya sedikit dikurangi agar nasi tidak lembek)

3 sdm minyak samin atau mentega

Garam, gula pasir, dan kaldu penyedap secukupnya


Bumbu Kering (Bubuk)

1 sdm bawang merah bubuk (atau bawang bombay bubuk)

1 sdt bawang putih bubuk

1 sdt ketumbar bubuk

1/2 sdt jintan bubuk

1/2 sdt lada putih bubuk

1/2 sdt jahe bubuk

1/4 sdt kunyit bubuk


Bumbu Rempah Utuh

4 cm kayu manis

4 butir cengkeh

3 butir kapulaga (memarkan sedikit)

1 buah bunga lawang (pekak)

1 batang serai (memarkan)

2 lembar daun salam

2 lembar daun jeruk (buang tulang daunnya)


Cara Membuat

  1. Rebus Daging & Siapkan Kaldu: Rebus potongan daging kambing hingga empuk. (Tips praktis: gunakan panci presto jika ada agar sangat cepat). Setelah empuk, angkat dagingnya. Saring air rebusan dan takar sebanyak 500-550 ml untuk kaldu.

  2. Tumis Bumbu (Di Wajan): Panaskan minyak samin atau mentega di wajan kecil. Masukkan semua bumbu rempah utuh dan tumis hingga wangi. Kecilkan api, lalu masukkan semua bumbu kering/bubuk. Aduk cepat selama 10-15 detik saja agar aromanya keluar dan tidak gosong. Matikan api.

  3. Pindahkan ke Rice Cooker: Masukkan beras basmati yang sudah ditiriskan ke dalam panci rice cooker. Tuangkan bumbu yang sudah ditumis tadi beserta minyak saminnya ke atas beras.

  4. Masukkan Kaldu & Daging: Tuangkan air kaldu kambing dan masukkan daging kambing yang sudah empuk.

  5. Bumbui & Aduk: Tambahkan garam, gula pasir, dan kaldu penyedap secukupnya. Aduk rata semuanya. Cicipi sedikit airnya, pastikan rasanya sedikit lebih asin dan gurih dari biasanya agar pas ketika meresap ke nasi.

  6. Masak: Tutup rice cooker dan tekan tombol Cook. Biarkan masak hingga matang (tombol berpindah ke Warm).

  7. Istirahatkan & Sajikan: Setelah matang, jangan langsung dibuka. Biarkan rice cooker dalam mode Warm tertutup selama 10-15 menit agar nasi tanak dan bumbu meresap sempurna. Setelah itu, buka, aduk perlahan agar nasi mekar (fluff), lalu sajikan hangat dengan taburan bawang merah goreng.

 
 
 

© 2025 by Be. Powered and secured by Wix

    bottom of page